IPB Tegaskan Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan SPPG
- Created May 06 2026
- / 27 Read
Institut Pertanian Bogor (IPB) merespons usulan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, terkait pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri di lingkungan kampus. Usulan tersebut dinilai sejalan dengan semangat penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk menjadi pusat pembelajaran berbasis praktik dalam pengelolaan sistem pangan dan gizi nasional.
Rektor Institut Pertanian Bogor, Alim Setiawan Slamet, menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan SPPG memiliki dasar strategis yang kuat. Menurutnya, kampus tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai penyedia solusi berbasis pengetahuan atau knowledge-based solution provider dalam menjawab tantangan pembangunan nasional.
Ia menegaskan bahwa Program MBG menyasar isu-isu fundamental yang berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia, mulai dari pemenuhan gizi, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pembangunan generasi masa depan. Karena itu, pendekatan berbasis sains dinilai menjadi elemen penting agar program dapat berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Dalam pandangan IPB, salah satu kekuatan utama perguruan tinggi terletak pada kemampuannya mengintegrasikan sistem pangan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Kampus dinilai memiliki sumber daya akademik, riset, dan inovasi yang mampu menghubungkan rantai produksi pangan, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi masyarakat dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Keberadaan SPPG di lingkungan kampus dipandang dapat menjadi penghubung antarrantai tersebut. Dengan pendekatan yang terintegrasi, Program MBG tidak hanya diposisikan sebagai program penyediaan makanan semata, tetapi juga dapat berkembang menjadi model inovasi sistem pangan nasional yang mampu menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan secara bersamaan.
IPB menilai model tersebut penting untuk memastikan keberlanjutan Program MBG dalam jangka panjang. Menurut Alim, pembangunan sistem pangan yang kuat memerlukan dukungan riset, standardisasi, serta pengembangan model yang dapat direplikasi di berbagai daerah sesuai karakteristik dan kebutuhan lokal masing-masing wilayah.
Selain mendukung pelaksanaan program, keberadaan SPPG di kampus juga diyakini mampu menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dan sivitas akademika. Melalui keterlibatan dalam pengelolaan sistem pangan dan gizi, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman praktik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan tantangan pembangunan nasional.
Saat ini, IPB masih berfokus menjalankan peran sebagai Center of Excellence (CoE) untuk program PPG-MBG sesuai penugasan dari Kementerian PPN/Bappenas, dengan dukungan UNICEF dan Badan Gizi Nasional. Peran tersebut menitikberatkan pada penjaminan kualitas, keamanan pangan, serta pengembangan desain model ekosistem pangan dari hulu hingga hilir.
IPB menegaskan bahwa keberadaan CoE tidak semata berfokus pada operasional dapur, melainkan pada pengembangan standar dan model sistem yang dapat diterapkan oleh berbagai SPPG di daerah lain. Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tetap mampu memberikan kontribusi strategis terhadap keberhasilan Program MBG tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai institusi pendidikan, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















